Powered by Blogger.
RSS

Pentingnya Sikap


Kita semua pernah mendengar kalimat “Sikap adalah segalanya”.
Kamus American Heritage mendefinisikan sikap sebagai “keadaan pikiran atau perasaan yang berkaitan dengan seseorang atau suatu benda.”
Semakin jauh saya menjalani perjalanan hidup, lebih jelas saya menyadari bagaimana hasil dari suatu situasi bisa dipengaruhi oleh sikap saya terhadap situasi itu. Bagaimana sikap berkaitan dengan seorang artis?
Sebagai alat pendukung penampilan, banyak artis sukses menggunakan “sikap” mereka sebagai bagian dari imej yang mereka tampilkan di atas panggung. Bukan itu yang saya maksudkan–saya membicarakan cara kamu mengendalikan dirimu sendirin di luar panggung, terutama bila kamu berurusan dengan dunia bisnis. Kamu harus selalu menyadari bagaimana kamu membawa diri dan bagaimana kamu memperlakukan rekan-rekanmu. Jangan pernah lupa bahwa bagaimana orang menghormatimu biasanya sama dengan dari bagaimana kamu menghormati orang lain. Bahkan orang-orang yang paling sukses, pada beberapa titik dalam karier mereka, harus menggali dalam diri mereka sendiri agar bisa bersikap positif menghadapi masalah-masalah mereka. Sering itu cuma soal menekan kebanggaan dirimu.
Banyak artis telah hancur karena sikap egois dan tidak memperhatikan orang lain. Ingatlah bahwa karier seorang artis takkan berlangsung selamanya–saat panggung akhirnya digelapkan, kamu bisa pergi secara terhormat atau terpuruk begitu saja.
Bersikap penuh martabat dan rendah hati sepanjang kariermu bisa sangat membantu saat kariermu mulai menurun. Dalam bisnis musik, orang sering kali harus pindah dari pertunjukan satu ke pertunjukan yang lainnya. Ini salah satu alasan lain mengapa kamu harus mnghormati orang-orang yang kamu temui. Kamu takkan pernah tahu, bisa saja “orang kecil” yang kamu temui hari ini akan menjadi berkuasa dan berpengaruh besok.
Banyak orang berpikir orang yang baik akan memiliki karier yang panjang–tapi pengalaman saya mengatakan lain.
Kita tidak tahu apa yang akan trjadi di masa depan. Bila kamu membakar jembatan hari ini, kamu pasti akan menyesal karena tidak bisa menyeberang dikemudian hari.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Membuat Musik Ketika Tidur


Apakah pernah mengalami dalam keadaan setengah tidur apa yang ada dalam pikiran terlihat nyata? Jika membayangkan objek maka objek tersebut tampak benar-benar hidup baik itu bentuk, gerakan, maupun suaranya. Pernah?
Membayangkan kota dimalam hari beserta lampu-lampu, mobil berlalu-lalang, orang-orang sedang shoping terlihat seperti terjadi sungguhan. Dulu, saat saya menyadari bisa melakukan ini saya mengira saya memiliki kelebihan clairvoyance dan clairaudience. Tetapi tidak, semua orang ternyata bisa melakukannya.

Keadaan ‘trans’ seperti ini bisa kita manfaatkan. Kita bisa mencontek apa yang muncul dalam keadaan tersebut.
Misal jika ingin mendengar melodi , maka kita niatkan untuk membayangkan melodi. Setelah muncul melodi segeralah bangun dan tulis melodi tersebut, atau nyanyikan dan rekam, karena kalau tidak biasanya kita akan tertidur.
Untuk saya pribadi -yang biasa terjadi- saya mendengar suara seperti genderang dan siulan. Namun bisa juga musik dengan full band ataupun orkestra tergantung niat kita. Yang menarik adalah kita bisa mendengar musik tanpa berniat membayangkan musiknya seperti apa. Jadi musik yang muncul adalah musik yang tidak diperhitungkan sebelumnya.
Nah dari melodi-melodi yang berhasil ditulis atau direkam tersebut bisa dipakai untuk tambah-tambah referensi lagu. Tinggal di aransemen ulang dan siap rilis.
Terdengar aneh dan mengada-ada?Oh tentu…’Tidak’. Saya punya teman yang juga bisa melakukannya. Semua orang bisa melakukannya. Untuk bacaan lebih lanjut ada di buku-buku yang membahas tentang potensi otak (gelombang alpha, tetha, delta).
Anyway, saya sendiri belum pernah mencatat musik yang muncul karena biasanya saya hanya bermain-main saja dengannya dan tanpa sadar segera tertidur

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Mengapa Sulit Menjadi Musisi Dan Gitaris Profesional


Jawabannya menjadi misteri bagi kebanyakan orang. Karena ketidaktahuan tersebut orang kemudian memberikan jawaban mitos.
Mitos no 1: Jika semua orang tahu apa yang harus dilakukan untuk menjadi professional dan terkenal maka semua orang akan melakukannya.
Mitos no 2: Kamu harus beruntung, ditemukan, dan melakukan apa yang harus dilakukukan pada tempat dan waktu yang tepat.
Mitos no 3: Kamu harus berbakat dan memiliki koneksi dengan orang dalam (industri musik).

Bagi kebanyakan gitaris pemula ketiga pernyataan diatas terasa sangat logis karena kebanyakan dari mereka tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi di dalam dunia industri musik. Mereka mempercayai mitos diatas jika ditanya bagaimana membuat rekaman, bagaimana rasanya tour 30 kota, bagaimana rasanya menjadi terkenal, dll.
Ketika musisi ataupun pemain gitar mulai mengajukan pertanyaan-pertanyaan tersebut didalam dirinya sesungguhnya ia telah melangkah pada level yang lebih lanjut dibandingkan dengan para player yang jauh lebih jago secara teknis namun masih saja sibuk mengurusi teknik hamer-on, pull-off, taping dua tangan, meniru suara kuda, membanting gitar setelah konser selesai dan sibuk mengurusi gaya rambutnya. Maka dari itu bagi para player perlu menyadari pentingnya menjadi musisi yang berfikir, mau melangkah kemana setelah lebih dari 50% teknik-teknik gitar dikuasai (tidak mungkin 100% seperti steve vai). Berikut adalah pertanyaan yang sangat memberdayakan.
Bagaimana aku bisa berkembang menjadi professional?
Bagaimana aku menciptakan keberuntungan?
Bagaimana supaya aku ditemukan produser dan pencari bakat?
Bagaimana caraku mendapatkan koneksi masuk industri musik?
Menjadi dewa angin dengan memainkan melodi super cepat pada gitar sepertinya jauh lebih mudah dari pada menemukan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan diatas. Dibutuhkan keterampilan lain untuk menjawabnya, dan tidak semua player cocok dalam urusan seperti ini.
Kita coba kembali pada ketiga mitos diatas
Mitos no 1: Jika semua orang tahu apa yang harus dilakukan untuk menjadi professional dan terkenal maka semua orang akan melakukannya.
Ribuan gitaris jago di Indonesia dan jutaan lainnya di seluruh dunia memimpikan untuk menjadi gitaris professional yang disegani, kaya dan terkenal. Banyak diantaranya mencoba untuk berhasil namun terlalu banyak yang berjalan ditempat dan tidak kemana-mana. Kita bisa lihat pada diri sendiri, teman maupun tetangga kita yang anak band yang mencoba serius bermusik. Mimpi mereka besar namun masalahya adalah terletak pada apa yang mereka kerjakan. Kebanyakan dari mereka mengetahui apa yang mereka harus lakukan namun biasanya mereka tidak melakukannya karena berbagai sebab. Jadi permasalahannya disini bukan mengetahui apa yang harus dilakukan tetapi melakukan apa yang telah diketahui.
Mitos no 2: Kamu harus beruntung, ditemukan, dan melakukan apa yang harus dilakukukan pada tempat dan waktu yang tepat.
Beruntung adalah hasil dari perencanaan yang baik !! menerapkan apa yang sudah direncanakan, kemudian berkreasi, dan fokus.
Bertindak pada waktu dan tempat yang tepat adalah sangat sangat mudah untuk dilakukan. Tahukah kita bahwa label-label rekord menerima demo lagu? Mengapa tidak kita bawa demo lagu kita kepada para produser, publisher, atau record company?
Sebelum kita melakukannya kita perlu tahu berapa banyak musisi yang telah dan sedang melakukan hal yang sama. Disekitar kita banyak musisi berbakat sedang ‘mengantri’. Mereka melakukan hal yang tepat namun yang menjadi pertanyaan adalah mengapa hanya sedikit yang berhasil masuk?
Mungkin jawaban kita adalah, “mungkin produser sedang mencari satu atau tiga band saja?”
Yup jawaban tersebut bisa dijadikan alasan, tapi apakah kenyataanya seperti itu? TIDAK!!
Orang-orang industri musik tidak mendapatkan apa yang mereka cari. Mereka banyak bertemu musisi namun memilih untuk tidak bekerjasama dengan mereka. Perlu diketahui bahwa industri musik mencari bakat-bakat baru dengan musik yang bagus. Banyak musisi bagus dengan musik yang bagus dan sepertinya cocok dengan keinginan industri musik namun pada kenyataanya tidak semudah itu.
Perusahaan musik industri tidak akan menginvestasikan ratusan juta kepada artis maupun band kecuali mereka yakin bahwa artis maupun band tersebut dapat menghasilkan uang yang cukup besar melebihi pengeluaran dan waktu yang digunakan untuk berinvestasi. Sekarang kebenarannya mulai terlihat bahwa berinvestasi dalam jumlah yang sangat besar terhadap manusia adalah sangat dan sangat beresiko. Ketika perusahaan musik menerima kita berarti mereka berinvestasi tidak hanya terhadap musik namun juga berinvestasi terhadap kita. Mereka memastikan kalau berinvestasi terhadap kita dapat menghasilkan uang yang sangat besar meskipun resikonya juga tak kalah besar. Yup, mereka menginginkan lagu yang bagus dan musisi yang bagus tetapi juga orang yang tepat. Bukan hanya seonggok tubuh dengan nama Adi, Budi, Sugeng, Inem, dll.
Contoh sederhana. Saat ini ada musisi bagus dengan grup band bagus dan lagu yang bagus. Band tersebut terkenal dan memiliki fans. Sebut saja band lokal yang terkenal di daerahnya. Ternyata si pencipta lagu dan vokalis adalah pengguna drug. Nah, sekarang posisikan diri kita menjadi seorang produser. Maukah kita berinvestasi terhadap band dengan lagu dan musisi bagus sebesar Rp.500 juta namun personel intinya bermasalah? Tidak bukan? Beberapa dekade lalu ada perusahan musik yang berinvestasi terhadap band macam ini dan rugi besar. Ini adalah contoh ekstrim, namun contoh tersebut mengilustrasikan resiko bekerjasama dengan orang (musisi) dapat membunuh kesempatan besar.
Untuk banyak alasan, bagi kita yang memiliki impian kesana musik industri terasa semakin sulit untuk dijangkau. Namun perlu diketahui bahwa bekerjasama dengan para musisi, para bisnisman musik melihat apa yang ada dibalik skill, performa band, maupun lagu. Banyak musisi tidak mengerti mengapa lagu terbaru mereka tidak meledak dipasaran padahal lagu-lagu tersebut sangat bagus.
Banyak musisi bagus dengan lagu yang bagus dengan impian yang sama ingin menjadi terkenal. Kenyataanya tidak banyak musisi ataupun band yang memiliki paket yang lengkap. Paket tersebut terdapat dibalik musiknya, bandnya, lagunya. Pertandingan dimenangkan pertamakali dalam pikiran dan kalah pertamakali dalam pikiran. The secret to what is missing in most musicians, is what is (or is not) in their minds.
Mitos no 3: Kamu harus berbakat dan memiliki koneksi dengan orang dalam (industri musik).
Hampir sama dengan mitos nomor dua. Hanya karena kita kenal dengan orang dalam bukan berarti orang dalam tidak memiliki pertimbangan, kecuali dua keadaan :
1. Kita memiliki hubungan yang sangat baik (mengenal seseorang tidaklah cukup jika orang yang kita kenal memiliki kenalan yang sangat banyak)
2. Kita adalah orang yang tepat. Tidak hanya musik yang bagus dan orang yang berbakat, namun dibalik itu semua, kita menjadi orang yang tepat. Mudahnya begini, kita = investasi, investasi adalah kita.
Perlu waktu untuk memahami ini. Musik industri sekarang ini berbeda dengan era 1970’s, 1980’s, 1990’s, bahkan hanya berselang beberapa tahun yang lalu. Musisi harus tahu tentang perubahan ini bahwa resiko terbesar perusahan musik adalah menginvestasikan uangnya untuk manusia (musisi dan band).
Oleh karena itu penting bagi para musisi untuk belajar menjadi ?orang yang tepat?, dan setelah itu, kita kembangkan skill tambahan untuk mempertahankan karir kita dimusik.
Nah ini adalah masukannya:
1. Fokus, lihat nilai yang terdapat dalam diri kita. Personalitas, kebiasaan, aksi, atau apapun yang berhubungan dengan kekuatan yang dapat membuat orang mengangkat kedua ibu jarinya untuk kita.
2. Teruskan mencipta lagu.
3. Belajar tentang industri musik yang akan kita masuki dan jangan dengarkan orang yang belum pernah masuk di industri musik berbicara tentang industri musik. Jika kita mau mengadakan tour 30 kota, maka jangan dengarkan masukan orang-orang yang belum pernah melakukannya. Inilah mengapa kuliah di jurusan musik agar bisa masuk ke industri musik adalah kurang tepat karena system disana tidak mengarah pada jalur industri musik. (Saran yang bisa diterima bagi yang berminat kuliah di musik : ketahui minat kemanakah kita ingin berkecimpung, bidang pendidikan atau industri musik? karena sekali lagi universitas dengan program studi musik kebanyakan tidak mengarah ke industri musik dan ini bisa menghemat banyak waktu).
4. Pastikan diri kita tahu mengapa kita ingin menjadi musisi professional. Sepertinya klise namun ini bisa kita jadikan sebagai kompas perjalanan hidup.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Berkarie Di Musik Penuh Resiko


Sadarkah kita apa yang telah kita investasikan selama belajar gitar dan bermusik?
1. Waktu. Jika dalam sehari kita belajar gitar minimal tiga jam maka dalam kurun waktu 10 tahun kita menghabiskan waktu 10.800 jam. Belum lagi waktu untuk latihan band, waktu untuk pentas, waktu untuk recording, waktu untuk rapat, waktu untuk mecari informasi, waktu untuk berkumpul dengan komusitas, waktu untuk bermimpi hingga tidak bisa tidur, dll. Bayangkan berapa jam waktu yang telah kita korbankan demi musik dan gitar?
2. Uang. Berapa banyak uang yang telah kita keluarkan untuk gitar dan musik? Berapa uang yang telah kita keluarkan untuk membeli gitar, membeli efek, amplie, computer, ipod, kaset, cd, sewa studio, recording, baju, celana, sepatu, asesoris kostum, ke salon, bensin, kuliah musik, nyewa guru les, dll?
Pengorbanan yang kita lakukan memang sungguh besar. Ini merupakan investasi yang luar biasa berani. Kita tidak menyadarinya. Kita melakukannya dengan suka cita sehingga tidak sadar bahwa kita telah melakukan banyak pengorbanan. Waktu, uang, pujian, hinaan, bahkan kadangkala sampai memburuknya hubungan persahabatan akibat beda visi atau berbagai macam sebab lainnya baik itu dari teman sesama band atau dengan orang lain.
Jika orientasi kita ingin memiliki band sesukses Dewa19, SO7 coba bayangkan semua pengorbanan yang telah kita kerjakan ketika ternyata demo yang telah kita buat tidak satupun diterima produser?
Apa yang telah kita lakukan? Bermain dengan api? Mungkin. Apakah semenakutkan itu? Bisa jadi, karena, ironisnya hanya segelintir saja yang berhasil. Semua waktu dan uang yang telah kita investasikan lenyap saat gagal, atau berhenti di tengah jalan.
Kenyataannya banyak orang beresiko kelaparan bahkan sudah mengalami kelaparan di musik meskipun tentu saja ada yang telah sukses luar biasa, dan hanya orang-orang yang telah sukses seperti ini yang bisa menjadi inspirasi buat mereka yang masih berjuang di bawah.
Ini adalah sebuah gambaran yang menakutkan jika kita memilih karir di musik. Kita harus mengetahui kenyataan berkarir di musik tidak semudah seperti yang orang banyak pikirkan (mungkin?). Jangan kita melihat kesuksesan dari apa yang sudah terekspos. Perjuangan untuk sampai di puncak yang tidak terekspos media perlu di jadikan acuan dan pelajaran berharga bagi kita yang baru memulainya. Setiap band sukses memiliki proses dan perjuangan yang panjang.
Mungkin ada yang beruntung bisa langsung nge-hit tanpa perjuangan yang signifikan. Adakah? Mungkin ada. Tapi kita tidak pernah tahu apa yang mereka lakukan ketika berada diatas. Semakin sukses maka semakin besar perjuangan agar tetap eksis dan karyanya diterima masyarakat. Setiap band pasti tidak ingin hanya nge-boom di album perdananya saja bukan? Mereka yang sudah diatas tentu tetap berjuang. Mungkin mereka yang sudah nge-boom juga di bayangi ketakutan dan bertanya bagaimana jika album mereka selanjutnya anjlok, atau mungkin beberapa sebab lainnya yang membuat karir mereka berakhir. Kita semua dalam proses perjuangan baik yang sudah diatas maupun yang belum jadi apa-apa.
Berkarir di musik memang penuh dengan liku-liku. Namun ini berlaku tidak hanya di musik saja. Setiap pilihan dan keputusan pasti mengandung resiko. Jika kita melihat hanya dalam konteks yang menakutkan maka sebaiknya kita bersiap untuk mengundurkan diri. Kita perlu mengaitkan kenikmatan dan kesuksesan yang besar dalam bermusik, lebih besar dari pada kepedihan selama proses yang penuh liku-liku dan mendebarkan.
Yang terakhir, kita perlu bertanya pada diri sendiri apakah memang musik yang benar-benar kita inginkan?

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

mengapa Harus Belajar Membaca Notasi


Sebagian orang adalah pemain gitar alami, mereka belajar dengan cara mendengar dan melihat orang lain bermain, dan itu luar biasa. Kemampuan untuk memainkan apa yang telah dilihat dan didengar adalah sebuah anugerah.
Namun meskipun kita dianugerahi kelebihan seperti itu pada titik tertentu kita akan menghadapi berbagai kendala mengenai berbagai “musical concept” yang disebabkan karena kita tidak bisa membaca notasi. Jika kita adalah seorang musisi atau ingin serius bermain gitar tentu kita perlu mengurangi kata bakat dalam kamus kita.
Kita tidak perlu sibuk menilai diri kita memiliki bakat atau tidak. Kita hanya perlu konsern seberapa besar kecintaan kita terhadap musik dan gitar. Kita hanya perlu konsern dengan seberapa besar kita dapat mengembangkannya. Memiliki bakat atau tidak itu urusan orang lain bagaimana penilaian mereka terhadap kita, dan biasanya penilaian tersebut meleset. Apa yang mereka pikirkan tidak seperti yang sebenarnya. Bahkan para ahli tentang kinerja otak, psikologi dan pengembangan diri mengatakan bahwa kita lebih hebat dari yang kita bayangkan selama ini.
Kita akan melihat dengan jelas kemajuan kita ketika fokus dengan apa yang kita lakukan. Jika kita mencintai blues, ketika kita ingin bermain seperti Jimi Hendrix atau Stevie Ray, -dan hanya itu yang ingin kita lakukan- maka membaca notasi tidak perlu dijadikan prioritas utama. Bermain secara rutin dengan sesama pemain gitar yang memiliki style dan minat yang sama bisa menjadi prioritas. Belajar ratusan licks dan solo bisa menjadi prioritas. Namun tentu saja setelah begitu banyak proses dan pengalaman kita mulai perlu membaca notasi.
Ada sebagian orang yang baru belajar gitar dan mungkin alat musik lain merasa perlu untuk mengetahui setiap teknik atau scale yang kita tunjukkan kepada mereka. Mereka penasaran dan ingin tahu apa yang mereka lakukan secara ?mental? mungkin tentang nama kord, nama nada dll.. Mereka tidak begitu tertarik dengan penjarian. Setiap orang memilki karakter yang berbeda-beda. Orang-orang seperti ini perlu untuk belajar membaca notasi, tidak sekedar memainkan saja. Mereka perlu belajar musik secara sistematis. Kita perlu mengetahui karakter yang ada pada diri kita, karena sangat dibutuhkan dalam mengekspresikan musik. Jangan pernah mendengarkan orang yang terlalu percaya diri akan bakat mereka yang menyuruh kita untuk tidak belajar membaca notasi.
Jika kita mampu membaca notasi berarti telah membuka wawasan kita terhadap musik. Kemampuan tersebut memberikan kunci untuk memahami musik lebih dalam lagi. Memiliki kemampuan membaca seperti memiliki asuransi ketika kita mengalami kendala di kemudian hari. Membaca merupakan kunci untuk membuka kemampuan yang lain, mencerna berbagai macam buku musik Dari buku tersebut kita mendapatkan wawasan baru yang tidak kita peroleh dari lingkungan kita. Banyak buku-buku musik bermutu yang ditulis oleh musisi terbaik dimuka bumi ini. Jadi mengapa kita harus menyianyiakan pelajaran-pelajaran berhaga dari para musisi tersebut?
Jika ada orang yang baru belajar gitar ataupun musik setelah membaca buku pelajaran gitar atau buku teori musik menanyakan apa itu ?akor augmented?? apa itu ?pergerakan melodi yang paralel?? mengapa melodi di frase ini tidak enak didengar? Bagaimana kita akan menjelaskannya jika mereka tidak mengerti sama sekali tentang notasi dan istilah-istilah musik. Untuk belajar teori, kita harus tahu bagaiman membaca notasi. Dengan kata lain kita harus menggunakan bahasa yang pas dan disini kita menggunakan kata-kata dan istilah musik untuk menjelaskannya.
Mungkin kita memiliki guru yang bagus dan kreatif yang dapat menjelaskannya namun kita tidak mendapatkan pemahaman yang komplit jika kita tidak dapat membaca. Hal tersebut seperti memahami grammar tanpa kita bisa membaca A-B-C-D.
Kapan mulai belajar membaca notasi?
Ada suatu keakinan bahwa kita hendaknya belajar membaca notasi sejak pertama kali belajar gitar (alat musik lain). Tidak seperti itu. Mudah untuk menguasai gitar tanpa pemahaman notasi sebelumnya. Ini bisa dibuktikan dengan banyaknya tetangga kita dan lebih banyak lagi pengamen yang dapat bermain gitar namun tidak bisa membaca not. Jika kita adalah seorang guru gitar (guru les mungkin), biasanya pada awalnya kita mengajarkan gitar hanya dengan memberi contoh penjarian kord tanpa membahas bagaimana membaca notasi karena dengan begitu murid akan terlibat secara emosi, dan emosi adalah salah satu faktor dalam bermain musik sehingga mereka mau untuk belajar. Mengajari murid bermain gitar sekaligus membaca notasi seperti menyiram api yang baru menyala dengan air.
Belajar membaca notasi itu sangat kompleks, melibatkan proses mental, dan berhubungan dengan konsep yang abstrak. Seperti mengungkapkan perasaan cinta yang penuh filosofi pada pacar di kencan pertama, dari sekedar memberi bunga dan sekotak coklat J.
Jadi ?misal kita seorang guru gitar/musik- maka kita harus hidupkan apinya dulu. Belajar lagu yang mereka suka dengan kord yang sederhana. Setelah beberapa bulan baru masuk ke notasi. Mereka mulai bisa menerima setelah terbiasa dengan gitar dan mulai mengerti mengapa membaca notasi itu penting untuk mereka.
Mengajari murid membaca not itu tidak mudah, perlu trik dan teknik. Sulit mengajari anak-anak membaca not bertitik (dewasa juga sering sulit). Untuk paham not bertitik maka kita harus tahu ketukan atas dan bawah, kita harus tahu nilai setengah terhadap nilai not sebelumnya. Biasanya mereka tidak paham. Jadi, disini kita merangkap menjadi guru matematika. Pada tahap ini bisa memakan waktu lama. Bahkan orang yang sudah belajar lama membaca notasi sering bingung saat membaca not bertitik.
Kenyataannya banyak orang yang sudah lama belajar namun masih bermasalah dalam membaca notasi -selain karena jarang dilatih- merupakan korban dari pendidikan yang kurang baik, banyak hal yang tidak dijelaskan, atau mungkin sama sekali tidak dibahas atau sekedar sambil lalu. Akhirnya, harus dapat dimengerti bahwa belajar membaca notasi merupakan proses yang panjang seperti membaca tulisan alpabet. Saat ini setelah mengalami proses bertahun-tahun kita dapat membaca tulisan dengan cepat tanpa harus mengeja lagi. Demikian halnya dengan membaca notasi, semakin sering kita membaca maka semakin lancar kita membaca.
Ingin atau tidaknya kita belajar membaca notasi itu merupakan sebuah pilihan. Tapi kita perlu mengumpulkan informasi mengapa kita memilihnya sehingga kita mengambil keputusan berdasarkan pertimbangan yang baik.
(sumber Jamie Andreas, telah mengalami editing)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Senjata Inovatif Gitaris Kreatif


Sekarang akan kita bahas beberapa inovasi untuk gitar dari segelintir gitaris top. Termasuk juga sejarahnya dan alasan mereka 'meminta' instrumen dengan spesifikasi khusus tersebut. Begitu pula dengan perkembangan selanjutnya dari spesifikasi yang inovatif itu. Selain gitar dan bagiannya, kita juga akan coba ulas sedikit mengenai piranti lainnya seperti efek atau sound processor-nya. Inilah beberapa di antaranya.Floyd Rose Tremolo
Jika bicara mengenai gitar, pasti nama Eddie Van Halen akan disebut. Karena ia tidak hanya lihai dalam memainkan instrumen berdawai enam itu. Tetapi juga merupakan pelopor dalam penggunaan whammy bar up/down yang kemudian dikenal sebagai Floyd Rose tremolo. Inovasi ini lengkap dengan pengunci senar pada bagian nut gitar. Sistem ini dikenal sebagai locking nut tremolo system.
Eddie mengembangkan sistem tremolo yang sudah ada sebelumnya. Yaitu tremolo yang hanya bisa ditekan down atau turun (menghasilkan nada yang lebih rendah). Sistem lama ini dikembangkan oleh pabrik Fender dan terpasang sebagai perlengkapan standar pada model Stratocaster. Inovasi ini terpikir olehnya pada sekitar tahun 1976. Saat itu para gitaris hebat seperti Ritchie Blackmore dan Jimmy Page sering mengalami masalah pada tuning gitar mereka. Karena mereka sering mem-bending senar terlalu banyak untuk menghasilkan suara yang 1½ nada lebih tinggi. Akibatnya senar jadi kendor dan tentunya nadanya juga jadi fals.
Dengan locking nut tremolo system, senar dikunci di bagian nut gitar agar tidak bergeser ketegangannya. Jadi keenam senar yang sudah disetem dari tuning peg (pemutar senar di bagian kepala gitar), dikunci agar tuning peg tersebut tidak ketarik lagi oleh ketegangan senar. Pada bagian bridge-gitarnya, dipasang sebuah saddle 'gantung' (ya Floyd Rose itu). Disebut gantung karena posisinya tidak tetap dan hanya 'nangkring' di sebuah 'engsel' di bagian depannya. Posisinya baru bergeming (pas pada tempatnya) setelah seluruh senar dipasang dan dipasang pula per (biasanya berjumlah tiga buah) di bagian belakang gitar untuk meng-counter ketegangan senar. Jadi bagian belakang bridge tersebut berhubungan dengan per dan bagian depannya menahan senar. Ketegangan senar dan per saling menahan sehingga bridge tetap pada posisi.
Pada bridge tersebut kemudian dipasang whammy bar yang merupakan sebuah tongkat (sama seperti pada tremolo sistem lama) untuk merubah tegangan senar. Caranya adalah dengan menekan untuk mengendorkan senar (demi menghasilkan nada lebih rendah) dan menariknya untuk menegangkan senar (demi nada lebih tinggi).
Selain gitar---yang dibuatnya sendiri di garasi rumahnya---itu, Eddie juga memodifikasi ampli Marshall-nya. Ampli tersebut diganti tabung-tabungnya. Ia juga merubah impedance pada speaker-nya. Hasilnya adalah suara yang lebih kencang tetapi dengan tekstur yang lebih halus. Semua hasil utak-atiknya ini, direkam di album debut self tittle Van halen yang dirilis pada 1978. Makanya album ini disebut sebagai awal dari sebuah revolusi.
Memang begitulah kenyataannya. Karena sistem tremolo seperti ini kemudian dipaten oleh Floyd Rose dan dipakai oleh semua pabrik gitar yang berkembang setelah masa itu. Bahkan pembuat gitar vintage seperti Fender juga mengaplikasinya (bahkan memegang lisensinya Floyd Rose).
Hanya pabrik yang konservatif seperti Gibson yang tetap pada desain lamanya. Tetapi Gibson pun juga kadang meng-install-nya pada sebagian produk signature series mereka. Industri dan teknik memainkan gitar memang mengalami revolusi pada akhir 70-an tersebut.
Gitar 7 Senar
Steve Vai ialah pelopor penggunaan gitar 7 senar tersebut. Awalnya adalah saat ia bersama David Lee Roth Band menggarap mini album pertama mereka Crazy From The Heat pada tahun 1985. Saat itu Steve merasa perlu untuk sesekali memainkan nada rendah demi mengimbangi nada bass Billy Sheehan yang sering menyetem bassnya dengan drop D tuning (DADG). Juga tetap dapat menjangkau nada tinggi standar, demi menyamai lengkingan vokal David.
Pendeknya, ia membutuhkan gitar yang mem- punyai range lebih dari empat oktaf. Agar ia lebih leluasa dalam memilih nada yang dimainkan. Maka pabrik Ibanez menjawabnya dengan membuat gitar 7 senar. Senar ke-7 tersebut bernada B rendah dan diletakkan di atas senar ke-6 yang bernada E. Gitar Ibanez custom itu juga sudah dilengkapi dengan locking nut tremolo system dan Floyd Rose.
Tetapi di album-album David Lee Roth Band tersebut, Steve belum maksimal dalam penggunaan gitar tujuh senarnya..........

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Koleksi Gitar Paul Gilbert


JAKARTA – Paul Gilbert bukan sosok yang asing. Paling tidak bagi para penggemar musik rock di Indonesia. Gitaris yang lahir 6 November 1966 di Carbondale, Illinois, Amerika, ternyata cukup mendapat tempat di sini. Buktinya, kita takkan susah bila cari informasi soal Paul Gilbert. Coba saja ketik kata kunci nama Paul Gilbert di edisi Indonesia mesin pencari google. Maka, akan muncul berderet-deret situs yang menyebut namanya.Tapi, maaf kali ini takkan dibahas soal musikalitas si gitaris ulung itu namun kegilaan para penggemarnya di negeri ini. Ridwan Saipul Nugraha terkekeh-kekeh. Pemuda berusia 29 tahun ini terang saja geli bila mengingat pertemuannya dengan sang idola. Pada 2002, Paul Gilbert datang ke Indonesia untuk memberikan klinik gitar kepada publik. ”Kebetulan aku kenal sama orang Ibanez. Sebagai wartawan aku minta wawancara khusus sebelum manggung.” Saat wawancara, Ridwan menanyakan beragam hal. Dari soal musik sampai menyerempet kesibukan dia dalam bersolo karier. Dalam sesi ini dia juga menyempatkan diri berfoto-foto-ria. ”Saking asyiknya, aku lupa ada titipan teman untuk minta tanda-tangan. Aku sendiri juga butuh. Waduh, gimana ya?” kenang Ridwan. Begitu klinik usai, si gitaris sudah tak bisa ditemui. Maklum, kecapekan habis manggung. Ridwan panik. Ia hanya bisa merutuk dirinya sendiri. Bukan apa-apa, kesempatan emas itu seolah terbuang percuma. Poster yang ada di genggaman tangan belum lagi mendapat tanda tangan sang idola. Tentu rasanya belum sahih sebagai kolektor. Dasar jodoh. Ridwan yang sudah setengah putus asa seperti ketiban bulan. ”Habis acara klinik itu, aku liputan fashion ke hotel Borobudur (Jakarta). Pas baru mau masuk, eh tiba-tiba ada mobil berhenti di dekat pintu masuk,” lanjut Ridwan. Coba tebak siapa yang keluar dari mobil itu? Tentu saja, Paul Gilbert! Ridwan girang bukan kepalang. Langsung saja, dia menyapa sang idola. Asyiknya, Paul tak lupa perjumpaan sebelumnya. Dengan ramah, Paul menghadiahi sejumlah tanda-tangan bagi Ridwan. Ada yang dibubuhkan di poster, cakram padat album solo dan album Mr. Big (grup musik yang sempat diperkuat Paul Gilbert). ”Wah, dia itu memang ramah. Aku pikir nggak bakal dapat tanda-tangan dia,” gelak Ridwan. Ridwan mulai menyukai Paul Gilbert sejak masih duduk di bangku sekolah. Kira-kira sekitar tahun 1990-an. Mula-mula dia mengoleksi kaset. Karena kualitasnya gampang rusak, Ridwan segera beralih ke cakram padat. Dan sejak itu perburuan pun makin serius. ”Tapi kebanyakan aku beli lewat internet. Ada juga yang hasil barter dengan teman,” ujarnya. Teknologi dunia maya ternyata amat membantu Ridwan dalam perburuan koleksi. Bukan cuma cakram padat tetapi juga tablature (buku musik yang berisi partitur karya solo Paul Gilbert), termasuk majalah musik yang memuat profil Paul. Lalu barang seperti itu didapat di mana ya? ”Di Jepang. Mereka pun jual DVD Guitar From Mars Classical dan Guitar From Mars Rock harganya 7.600 Yen, di luar ongkos kirim. Kemaren bareng temen order, mereka kirim gak sampai 10 hari barangnya dah nyampe,” jelas Ridwan. Di negeri sakura itu, juga ada empat album solo PG tersedia di sana seperti Kings Of Club, Selections From Flying Dog, Alligator Farm dan Burning Organ. Harganya berkisar 2.800 – 3.000 Yen, di luar ongkos kirim. ”Order biasanya akan sampai dalam 2 minggu setelah pemesanan,” kata Ridwan. Kalau mau coba, silakan kunjungi situs: www.hav.co.jp dan www.shinko-music.co.jp. Selain itu, wartawan salah satu stasiun televisi swasta ini juga punya buku tablature lain. Namanya, Paul Gilbert’s Guitar Cook Book yang satu set dengan cakram padat ukuran 7 inci. ”Isinya pelajaran musik gitar ala Paul Gilbert.” Di dunia maya, Ridwan bukan cuma bertransaksi. Ia juga melakukan barter dengan sesama kolektor. Yang menarik, dia tak pernah bertatap muka dengan para kolektor tersebut. ”Gimana mau kopi darat, lah wong mereka tinggalnya ada yang di Eropa, Australia dan Amerika,” kekeh Ridwan. Pernah suatu kali, Ridwan memburu single solo pertama Paul Gilbert: ”Girls who can Read Your Mind”. Katanya, sudah tiga tahun dia memburu barang langka ini. Tahun 2003, dia menemukan penjual di situs Amazon.com. ”Yang jual nawarin 19 dolar AS. Aku setuju, lantas aku minta bantuan temenku yang ada di California (AS).” Sesama kolektor tolong-menolong adalah hal yang lumrah. Begitu barang didapat Ridwan pun gembira. Dan makin bertambah setelah temannya itu tak mau dibayari uang talangan untuk membeli single itu. ”Kata dia, ini hadiah buat aku. Walah, senang banget. Sudah dapat barang langka eh, nggak tahunya malah gratis.” Ridwan juga sempat tertipu. Kejadiannya sekitar April tahun lalu. ”Aku sudah kirim ke temen-ku di Australia, sekitar Rp. 400 ribu. Eh, dia bilang duit itu nggak nyampe.” Padahal, Ridwan sudah mengecek di sini dan uang itu sudah terkirim. Dalam satu bulan, Ridwan mengaku membelanjakan sekitar Rp 300 ribu untuk memburu koleksi Paul Gilbert. Rekor paling besar, sekitar satu juta rupiah. ”Wah, kalo nggak di-rem bisa jebol juga kantong ini,” tutur Ridwan sambil mesem-mesem. Untuk di negeri sendiri Ridwan menyodorkan nama: Jathie dan Kodrat. Keduanya dikenal sebagai dua – dua sobat yang sama-sama gemar mengoleksi beragam barang koleksi soal Paul Gilbert. ”Wah, Kodrat koleksinya lebih banyak lagi dari aku,” kata Ridwan.Di Makassar, Sulawesi Selatan ada Sofyan yang juga tergila-gila dengan gitaris yang sekarang tergabung dengan band Racer X ini. Sama seperti rekan-rekan dari Jakarta itu, Sofyan juga mengoleksi tablature Paul Gilbert. Kebetulan dia ikut milis gitaris.com. Jadi ketika mau cari dia minta saran Ridwan. Lagi-lagi, sesama kolektor mereka pun saling berbagi. Lewat asas kepercayaan, informasi itu mengalir seperti air: luber ke mana-mana. Dan barang koleksi terus diburu sampai ketemu

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS